WARTASUBANG.COM, SURABAYA — Kasus gagal ginjal kronis di Indonesia kini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia. Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, mengungkapkan adanya tren peningkatan pasien gagal ginjal yang masih berusia produktif, yakni pada rentang usia 20 hingga 30 tahun.
Gaya hidup modern, pola makan yang buruk, serta kebiasaan mengonsumsi obat tanpa pengawasan medis menjadi pemicu utama fenomena ini.
Dalam sebuah diskusi kesehatan, dr. Decsa menceritakan pengalamannya saat mendampingi sejawat akademisi dari Leiden University, Belanda, yang terkejut melihat banyaknya anak muda Indonesia yang menjadi pasien reguler di unit pencucian darah (hemodialisis).
Fenomena ini dinilai kontras dengan kondisi di Eropa, tempat mayoritas pasien gagal ginjal merupakan kelompok lansia.
Menurut dr. Decsa, ada empat faktor utama dari kebiasaan masyarakat urban di Indonesia yang berkontribusi langsung terhadap penurunan fungsi organ ginjal pada usia muda.
Faktor pertama adalah pola diet atau konsumsi makanan yang cenderung terlalu manis atau terlalu asin.
Berbeda dengan pola makan di negara maju yang lebih ringkas, masyarakat Indonesia terbiasa mengonsumsi makanan berat berkalori tinggi hingga tiga kali sehari, lengkap dengan camilan serta minuman manis tinggi gula.
Faktor kedua adalah minimnya aktivitas fisik akibat tingginya ketergantungan pada kendaraan bermotor.
Ketiga, pola tidur yang tidak teratur dan kebiasaan mengonsumsi makanan berat pada malam hari.
Terakhir, tingkat stres yang tinggi baik karena tuntutan pekerjaan maupun kurangnya waktu luang yang berkualitas (work-life balance).
Selain pola hidup, dr. Decsa juga memperingatkan bahaya laten dari konsumsi obat-obatan secara sembarangan tanpa resep dokter.
Salah satu pemicu kerusakan struktur tubulus ginjal yang paling sering ditemui di masyarakat adalah penggunaan obat pereda nyeri jenis Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) secara jangka panjang atau menahun.
Kebiasaan membeli obat nyeri atau jamu pegal linu di warung secara bebas tanpa diagnosis medis dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai NSAID nephropathy.
Terkait fungsi organ, dr. Decsa menjelaskan bahwa ginjal memiliki enam fungsi vital, mulai dari menyaring racun, mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah, hingga memproduksi sel darah merah.
Ketika sel ginjal mengalami kerusakan kronis, organ ini tidak dapat melakukan regenerasi secara mandiri. Jika sudah mencapai stadium akhir, pasien harus menjalani Terapi Pengganti Ginjal (TPG), seperti hemodialisis (cuci darah) seumur hidup atau melakukan transplantasi (cangkok) ginjal.
Di akhir keterangannya, dr. Decsa mengimbau masyarakat untuk lebih mawas diri dan melakukan deteksi dini. Langkah skrining paling sederhana dan terjangkau yang dapat dilakukan masyarakat adalah melalui pemeriksaan urine (cek kencing) secara berkala di fasilitas kesehatan.
”Kesehatan itu adalah tanggung jawab pribadi kita masing-masing. Jaga tubuh kita dengan baik agar tetap produktif sebagai tulang punggung keluarga dalam jangka panjang,” pungkas dr. Decsa
Sumber :
Https://youtu.be/YGjXfLsuG8k?si=8sXavSaNLQsSL9Gj







