BALI, Wartasubang.com — Fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat yang di sana di rumahterus merangkak naik seringkali dinilai sebagai sinyal merah bagi perekonomian.
Namun, bagi industri kreatif dan pelaku UMKM dalam negeri, situasi ini justru dinilai sebagai momentum emas untuk merebut pasar, mengurangi ketergantungan impor, dan menggenjot taji produk lokal.
Pandangan optimistis tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk dinamika ekonomi kreatif di sela-sela agenda Tanwir Pemuda Muhammadiyah yang berlangsung di Bali, awal Juni 2026.
Wakil Menteri Investasi, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa kenaikan mata uang asing seharusnya tidak direspons dengan kepanikan, melainkan dengan strategi sifting atau pergeseran peta konsumsi.
Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap stabil di angka 5% salah satunya ditopang oleh konsumsi domestik yang sangat besar.
“Pergerakan dolar itu berdampak besar kalau industri kita punya demanding tinggi terhadap impor bahan baku. Padahal, mayoritas pelaku ekonomi kreatif dan UMKM kita menggunakan material dari dalam negeri. Jadi, dengan dolar naik, ini adalah rumusan matematis kita untuk menghindari impor dan meningkatkan ekspor,” jelas Yuliot di hadapan ratusan kader pemuda.
Mengubah Tantangan Jadi Daya Saing
Yuliot menambahkan, saat barang impor menjadi jauh lebih mahal akibat melemahnya rupiah, di situlah produk lokal mendapatkan keunggulan komparatif dari segi harga. Sektor agro, kriya, fesyen, dan kuliner berbasis bahan baku lokal kini memiliki daya saing yang jauh lebih kompetitif di pasar.
Tantangan terbesar saat ini tinggal berada pada aspek inovasi dan konsistensi kualitas produk.
Indonesia, menurut Yuliot, memiliki kelimpahan komoditas yang tidak dimiliki negara tetangga, mulai dari sektor maritim hingga agrikultur.
“Kita punya segalanya. Tantangannya adalah jangan sampai kita hanya menjadi follower yang mengonsumsi nilai tambah added value yang diciptakan negara lain. Bahan bakunya dari kita, harusnya diolah di sini dan dinikmati hasilnya oleh bangsa sendiri,” tekannya.
Rp10 Triliun untuk Sokong Jaminan Karya Kreatif
Peluang emas ini semakin terbuka lebar menyusul komitmen regulasi pemerintah yang kian konkret. Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), Kawendra Lukistian, mengungkapkan bahwa tahun 2026 menjadi tonggak sejarah baru bagi industri kreatif tanah air dengan dialokasikannya anggaran sebesar Rp10 triliun untuk IP Financing (pendanaan berbasis kekayaan intelektual).
Melalui skema ini, para kreator yang memiliki ide, hak cipta lagu, hingga skrip drama yang telah terstandardisasi dapat menjadikannya sebagai kolateral atau jaminan utama di perbankan untuk mendapatkan modal usaha.
“Perekonomian dunia sedang bergeser dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi kreatif. Saat produk impor melambat karena beban dolar, produk kreatif lokal harus masuk mengisi celah tersebut. Pemerintah sudah menyiapkan infrastruktur penunjangnya, POJK-nya ada, kurasinya jalan. Sekarang tinggal bagaimana anak muda mengeksekusi ide mereka,” kata Kawendra.
Bukti Nyata di Lapangan
Optimisme regulasi tersebut divalidasi langsung oleh Gusti Ngurah Anom, atau Ajik Krisna, pemilik jaringan pusat oleh-oleh terbesar di Bali. Mengelola lebih dari 2.500 karyawan dan ribuan mitra UMKM, Ajik mengakui bahwa denyut nadi ekonomi di tingkat bawah tetap bergerak positif selama pelaku usaha jeli melihat peluang lokal.
Bahkan sebagai langkah konkret memanfaatkan potensi domestik, Ajik kini tengah mengembangkan kawasan Kampung UMKM seluas 40 hektar di Bali Utara untuk menyerap dan menaikkan kelas produk-produk lokal, termasuk membuka pintu kurasi bagi produk garapan Pemuda Muhammadiyah.
Kombinasi antara momentum mahalnya barang impor akibat dolar tinggi, hadirnya stimulus pembiayaan kekayaan intelektual, dan penguatan pasar domestik menjadi momentum krusial.
Jika dimanfaatkan dengan optimal, badai dolar kali ini tidak akan menjadi ancaman, melainkan panggung besar bagi produk kreatif lokal untuk unjuk gigi dan berdaulat di negeri sendiri.
Sumber: https://youtu.be/dxeahR46EzA?si=khuhhiAnAgppUO7q







